Banyak manusia yang dikaruniai kecerdasan hebat. Sayangnya, tak sedikit juga orang-orang yang memiliki kecerdasan inteligensi tapi tidak diimbangi dengan kecerdasan emosinya. Seperti sosok Adolf Hitler yang konon seorang jenius, tapi kejeniusannya itu ternyata malah menjadi bencana bagi kemanusiaan. Secara sederhana bisa disebut bahwa Hitler adalah seorang yang jenius tanpa memiliki kecerdasan emosi, sehingga apa yang dilakukan Hitler hingga saat ini dikenang oleh banyak orang sebagai suatu kejahatan.
Kecerdasan emosi (emotional quotient/EQ) adalah suatu term untuk menjelaskan kemampuan seseorang dalam mengenal dan mengelola emosinya. Begitu dahsyatnya EQ sehingga bisa membolak-balik warna dunia. Kecerdasan emosi bisa diasah, dan yang paling berperan dalam mengasahnya adalah Ibu. Karena, kecerdasan emosi telah terlatih sejak janin masih berada dalam kandungan. Ibu hamil yang menjalani masa kehamilannya dengan tenang akan membuat emosinya terkontrol, dan akhirnya akan melahirkan anak dengan emosi yang lebih stabil/tenang. Ibu memiliki peran yang dominan dalam pengasuhan anak, meski peran ayah juga begitu penting. Saat menyusui, merawat, dan mengasuh anak Ibu dapat mengenalkan berbagai emosi. Sehingga anak dapat melihat, bagaimana Ibunya berekspresi dan merespons emosi yang datang dari lingkungan. Seorang Ibu dapat membantu anak mengenali dan menerima emosi anak. Seperti sedih, atau kecewa adalah hal yang wajar dialami saat orang tidak mendapatkan keinginannya. Salah satu cara adalah mengakui anak merasakan emosi tertentu pada saat itu. Dengan diakui emosinya, anak akan lebih tenang dan kemudian, Ibu dapat masuk dengan saran-sarannya. Ibu juga dapat membantu anak untuk menyalurkan emosi dengan cara yang konstruktif. Misalnya, dengan berolahraga atau menulis untuk menghilangkan kekesalan, atau memberi reward saat berhasil mencapai sesuatu. Orangtua juga harus lebih melatih anak untuk lebih asertif dalam mengemukakan emosinya. Kecerdasan emosi yang rendah dapat menghambat keberhasilan anak.
Anak dengan tingkat EQ rendah terlihat dari kecenderungannya menyalahkan orang lain ketika mengalami kegagalan atau situasi sulit yang tak diharapkan, susah menerima masukan dan kritik dari orang lain, mudah tersinggung jika pendapatnya dipatahkan, tidak mau kalah atau mengakui bahwa orang lain lebih baik daripadanya, tidak sportif, tidak percaya diri, dan bisa jadi sulit memotivasi diri untuk bangkit kembali dan berprestasi setelah kalah berkompetisi. Rendahnya pengelolaan emosi juga dapat membentuk sifat drama queen atau kecenderungan mendramatisasi ekspresi emosi dalam diri. Dimana, masalah sepele harus dibesar-besarkan hingga menarik perhatian. Anak yang kurang mampu mengelola emosinya, maka proses bersosialisasinya pun akan menghadapi kendala dan cenderung sulit untuk membentuk hubungan interpersonal yang memuaskan. Serta sulit menyelesaikan tugas bila emosinya sedang memuncak atau butuh waktu relatif lama untuk kembali tenang. Anak dengan kecerdasan emosi yang kurang dianggap sebagai anak yang sensitif/perasa atau sebaliknya kurang peka. Jika kesensitifan atau kurang pekanya mulai menimbulkan masalah dalam berhubungan dengan lingkungan, maka perlu segera ditangani. Penanganan dapat dilakukan dengan cara memfasilitasi anak agar memahami emosinya. Sebaiknya anak diberi pengertian bahwa emosi negatif, seperti marah dan sedih bisa dialami semua orang. Namun, emosi tersebut seharusnya tidak diumbar secara berlebihan. Pengungkapan emosi yang berlebihan mungkin pada awalnya akan menarik simpati orang lain, tapi jika hal itu sering dilakukan, bukan tidak mungkin jika orang lain akan merasa tidak nyaman berinteraksi dengannya. Dalam hal ini, Ibu harus bisa menjadi sosok terdepan dalam menempa kecerdasan emosi anak.
Dengan memiliki EQ anak bisa mengontrol emosinya dengan baik, dan bisa konsentrasi penuh saat belajar walau dirinya sedang dalam masalah. Selain itu, ia bisa menempatkan diri dengan pas dalam berbagai situasi dan kondisi, juga dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan yang sedang dihadapinya. EQ juga penting dalam menunjang pergaulan anak sehari-hari, baik dengan orang tua, saudara kandung, teman, atau gurunya. Kecerdasan emosi merupakan kunci kesuksesan seseorang, meski memiliki IQ biasa saja, orang akan nyaman berinteraski dan bekerjasama dengan orang yang memiliki EQ yang baik. Itulah yang membuat seseorang dengan EQ tinggi bisa sukses mengarungi kehidupan berkat jaring pertemanan yang luas atau penerimaan yang tinggi oleh lingkungan. Semua itu karena pengelolaan emosi yang baik. Emosi membantu manusia mengelola kondisi internal dan eksternal diri seseorang. Jika anak senang karena berhasil melakukan sesuatu, maka akan memacunya untuk selalu mengukir prestasi. Jika suatu saat anak mengalami kegagalan, ia tidak akan berlama-lama meratapi kegagalannya dan mampu segera bangkit kembali.